Hapus Perilaku Pelecehan Spiritual dalam Penanganan Kasus Perempuan Korban Perkosaan

Penulis

  • Paulus Eko Kristianto Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara

DOI:

https://doi.org/10.46567/ijt.v2i2.72

Kata Kunci:

perempuan, perkosaan, analisa gender, pelecehan spiritual, hakikat pelayanan, teladan pelayanan

Abstrak

Berita perkosaan sudah membuming di berbagai media massa. Maka, berita ini tidak boleh dibiarkan saja apalagi dianggap sebagai pengalaman biasa. Kalau terus demikian, korban, khususnya perempuan, bisa berada dalam posisi ketidakadilan gender. Hal ini dapat dilihat dengan menggunakan pisau analisa gender. Oleh karena itu, pendeta sebagai pengemban jabatan imamat dalam gereja diharapkan turut andil dalam mengentas kasus tersebut dengan berbagai strategi pastoral sebagai bagian dari pelayanannya. Namun sering kali, pendeta tidak melakukan hal itu sebab pendeta terjebak dalam keberadaan kekuasaan yang melekat dalam dirinya. Bagi penulis, keadaan ini disebut sebagai pelecehan spiritual. Tapi, penulis perlu menggarisbawahi bahwa sikap pendeta ini tidak bisa digeneralisasi terhadap keberadaan pendeta sebab kasus ini ditemukan penulis ketika penulis melaksanakan tugas praktik homiletika di gereja tertentu. Oleh karena itu menurut penulis, pendeta yang melakukan sikap tersebut harus kembali ke koridor yang benar dengan bercermin pada hakikat pelayanan dan sikap
pelayanan Yesus sebagai wujud konkrit dari teladan pelayanan. Bila pendeta bersedia melakukannya, penulis meyakini bahwa pengalaman pelecehan spiritual tidak akan terjadi lagi.

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.

Biografi Penulis

Paulus Eko Kristianto, Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara

Paulus Eko Kristianto merupakan pengajar dan tim kurikulum Pendidikan Kristiani di Badan Pendidikan Kristen (BPK) Penabur Jakarta. Saat ini, ia menyelesaikan studi magister filsafat dengan konsentrasi studi filsafat dan Pendidikan Kristiani di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyakara, Jakarta.

Referensi

A. Gallares, Judette. Model-Model Keberanian; Perempuan Dalam Perjanjian Baru. Maumere: LPBAJ, 2002.

A. Meninger, William. Menjadi Pribadi Utuh. Yogyakarta: Kanisius, 1999.

E. Mc Grath, Alister. Christian Spirituality. Malden, MA: Blackwell Publisher, 1999.

Fakih, Mansour. Analisis Gender & Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.

Foucault, Michel. Disiplin Tubuh: Bengkel Individu Modern. Terj., Petrus Sunu Hardiyanta. Yogyakarta: LKis, 1997.

Hill, Margaret, et.al. Menyembuhkan Luka Batin Akibat Trauma: Bagaimana Gereja dapat Menolong? Yogyakarta: Gloria Graffa/Yayasan Karunia Bakti Budaya Indonesia, 2006.

Heggen, Carolyn Holderread. Pelecehan Seksual dalam Keluarga Kristen dan Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008.

Karl dan Evelyn Bartsch. Sang Terluka yang Menyembuhkan (Stress dan Trauma Healing): Panduan bagi Pendamping. Semarang: Pustaka Muria, 2005.

Johnson, David, dan Jeff Van Vonderen. Kuasa Terselubung dari Pelecehan Spiritual: Mengenal dan Menghindari Manipulasi Spiritual dan Otoritas Spiritual Palsu di dalam Gereja. Jakarta: Nafiri Gabriel, 2000.

Song, Choan-Seng. Yesus dan Pemerintahan Allah. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010.

Wright, Norman H. Konseling Krisis: Membantu Orang dalam Krisis dan Stress. Malang: Gandum Mas, 2006.

Yantzi, Mark. Kekerasan Seksual & Pemulihan: Pemulihan bagi Korban, Pelaku, dan Masyarakat. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.

Diterbitkan

2014-12-30 — Diperbaharui pada 2014-12-30

Cara Mengutip

Kristianto, P. E. . (2014). Hapus Perilaku Pelecehan Spiritual dalam Penanganan Kasus Perempuan Korban Perkosaan . Indonesian Journal of Theology, 2(2), 136-154. https://doi.org/10.46567/ijt.v2i2.72