https://indotheologyjournal.org/index.php/home/issue/feed Indonesian Journal of Theology 2025-12-25T21:05:50+00:00 Hans A. Harmakaputra editor@indotheologyjournal.org Open Journal Systems <p style="text-align: justify;">Indonesian Journal of Theology (<a href="https://portal.issn.org/resource/ISSN/2339-0751" target="_blank" rel="noopener">E-ISSN: 2339-0751</a>) adalah sebuah jurnal teologi yang dipublikasi oleh Asosiasi Teolog Indonesia. IJT digagas dengan tujuan memperkaya diskursus teologi antar teolog-teolog antar-denominasi dan antar-iman, terutama di konteks Indonesia. Selain itu, kami juga ingin berkontribusi kepada diskursus teologis yang lebih luas di kekristenan dunia saat ini, khususnya di konteks Asia, dengan mempublikasikan karya-karya dari penulis dari seluruh dunia. Kami menerima kontribusi dari sarjana-sarjana dalam bidang teologi, studi agama-agama, dan bidang-bidang terkait lainnya.</p> <p style="text-align: justify;">Anda dapat mengakses IJT dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Sila pilih bahasa yang diinginkan melalui menu di sebelah kanan.<br /><br /><em>To access the IJT in English, choose <strong>English</strong> at the <strong>Bahasa </strong>option on the right side. </em></p> <p style="text-align: justify;"><strong>AKREDITASI</strong></p> <p style="text-align: justify;">Indonesian Journal of Theology telah diakreditasi (SINTA 2) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Republik Indonesia, sesuai Surat Keputusan nomor 164/E/KPT/2021. Akreditasi berlaku sejak Volume 7 Nomor 2 (2019) hingga Volume 12 Nomor 1 (2024). </p> https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/699 English Mere Christian Hermeneutics: Transfiguring What It Means to Read the Bible Theologically 2025-08-09T07:49:45+00:00 Calvin Wu calvinsmile2u@gmail.com <p>Resensi buku <em>Mere Christian Hermeneutics: Transfiguring What It Means to Read the Bible Theologically.</em></p> 2026-01-23T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2025 Calvin Wu https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/733 When God Became White: Dismantling Whiteness for a More Just Christianity 2025-10-19T10:53:42+00:00 Rynaldi Mahardika Situmeang rynaldimsitumeang@gmail.com <p>Resensi buku <em>When God Became White: Dismantling Whiteness for a More Just Christianity.</em></p> 2026-01-23T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2025 Rynaldi Mahardika Situmeang https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/776 Ekoteologi yang melampaui Ajektiva 2025-12-25T18:56:19+00:00 Abel K. Aruan aaruan@villanova.edu Seoyoung Kim seoyoung.kim@manchester.ac.uk <p>Tulisan pendahuluan ini menelusuri karakteristik khas dari kegiatan berteologi di Asia and Pasifik yang seharusnya mendefinisikan ulang diskursus ekoteologi: bukan hanya sebagai teologi yang diupayakan menjadi ekologis, tapi sebagai diskursus yang diijinkan dibentuk oleh bumi yang dinamainya sendiri. Sebagai sebuah materi pembahasan, ekoteologi juga didefinisikan ulang: bukan lagi sebagai butir dari pengakuan iman, tapi sebagai sebuah teologi politikal, yakni, bagian integral dari kehidupan politis, yang di dalamnya nonmanusia juga merupakan subyek politik. Bagian terakhir dari artikel merangkum lima sumbangan naskah ke edisi ini, mencakup konsep-konsep “pengatur perilaku” seperti Laut, keseharian arkipelagis, ekonomi tunai, ekonomi Ilahi, penolakan, ekoteologi penyejuk hati, <em>Swaraj</em>, <em>Dukka</em> (penderitaan), dan Roh. Penulis berharap bahwa arah baru dari bidang studi ini bisa menjadi dokumentatif sekaligus alternatif terhadap pola pikir dan perilaku yang dualistik, mengobjektivikasi, dan menginstrumentalisasi; menjadi deskriptif secara jujur sekaligus tetap berkomitmen normatif.</p> 2025-12-25T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2025 Abel Kristofel Aruan, Seoyoung Kim https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/644 Demonetisasi Allah melalui Sebuah Ekoteologi Pasifik terkait Kehidupan,Istirahat, dan Pembatasan 2025-06-24T01:43:32+00:00 Faafetai Aiava faafetai.aiava@ptc.ac.fj <p>Artikel ini mengeksplorasi bagaimana komodifikasi waktu dan teologi di bawah ekonomi keuangan global memengaruhi keterputusan ekologi dan spiritual di Pasifik. Tulisan ini memeriksa apa yang terjadi ketika Allah dibentuk oleh logika pasar, sehingga menjadi sebuah figur transaksional yang terkait dengan kemakmuran material ketimbang kesejahteraan seluruh kehidupan. Alih-alih mengikuti model-model penatalayanan, tulisan mengajukan sebuah ekonomi ilahi yang menghormati ritme-ritme Bumi, merengkuh nilai-nilai serta kebajikan Pasifik, dan mempertahankan prinsip bahwa seluruh kehidupan adalah sakral. Dengan demikian, “demonetisasi” Allah bukanlah sekadar kritik terhadap kapitalisme, melainkan bertujuan untuk memulihkan sebuah visi teologis yang mengedepankan istirahat, pembatasan, dan relasi dengan seluruh ciptaan demi tercapainya keadilan ekologis.</p> 2025-12-25T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2025 Faafetai Aiava https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/629 Ekoteologi Arkipelagis 2025-04-18T16:04:31+00:00 Elia Maggang eliamaggang@gmail.com <p>Dominasi warna hijau yang menggambarkan perspektif Eropa-sentris yang kolonial dan berorientasi pada daratan dalam ekoteologi telah mengakibatkan pengabaian terhadap krisis di laut. Sebagai respons, ekoteologi biru muncul untuk memberi perhatian pada komunitas laut dan pesisir dalam diskursus ekoteologi. Tetapi, ekoteologi biru belum mampu menjawab isu krusial keterhubungan komunitas darat dan laut, padahal keterhubungan itu menentukan dalam menyebabkan dan mengatasi krisis ekologis di laut. Karena itu, artikel ini mengajukan ekoteologi arkipelagis untuk mengembangkan perspektif biru dan secara simultan mengartikulasikan visi keterhubungan komunitas laut (biru) dan darat (hijau) sebagai satu kesatuan entitas planetaris. Ekoteologi ini diinspirasi oleh keseharian arkipelagis komunitas adat Indonesia, yang terangkum dalam peribahasa seperti “<em>tei kari dekang, sera bata ra’ung</em>” (singkong turun dari gunung, ikan naik dari laut) dari Pulau Pantar. Dinavigasi keseharian arkipelagis, saya membaca kisah Yesus memberi makan orang banyak dengan ikan dan roti dalam Markus 6:30-44 dari perspektif ekopneumatologi untuk mengonstruksi sebuah ekoteologi arkipelagis yang dimulai dengan dan bermuara pada interaksi-interaksi menghidupkan antara komunitas-komunitas laut dan tanah. Ekoteologi arkipelagis ini dapat menjadi sebuah model bagi diskursus ekoteologi yang merangkul komunitas-komunitas ekologis yang beragam di planet ini</p> 2025-12-25T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2025 Elia Maggang https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/661 Perjumpaan antara Teologi dan Antropologi 2025-07-22T16:00:57+00:00 Kai Ngu kaingu@umich.edu <p>Terinspirasi oleh Joel Robbin yang mengajak teologi dan antropologi untuk berkolaborasi sebagai rekan teoretis, di dalam artikel ini saya memeriksa buku-buku terbaru Jojo M. Fung, <em>Sacred Sustainability, Polyhedral Christianity and Cosmic Challenges</em> (2025) dan <em>A Shamanic Pneumatology in a Mystical Age of Sacred Sustainability</em> (2017), dari perspektif seorang antropolog. Di dalam buku-buku tersebut, Fung membangun sebuah jembatan teoretis untuk menghubungkan Roh Kreatif di dalam narasi-narasi penciptaan di kitab Kejadian dengan roh-roh alam di dalam praktik-praktik agama asli, yang ia sebut sebagai “<em>creational pneumatology</em>.” Saya berargumentasi bahwa cara Fung menghubungkan teologi dengan komunitas-komunitas agama asli di Asia Tenggara dapat menerangi asumsi-asumsi sekuler dari pergeseran ke paradigma lebih-dari-manusia (<em>more-than-human</em>) di bidang antropologi dan lainnya, serta menunjukkan bagaimana pergeseran tersebut masih juga terikat kepada “manusia” bahkan dalam upaya untuk melangkauinya. Namun demikian, saya juga menunjukkan bahwa teolog-teolog seperti Fung dapat mengambil manfaat dari alat-alat epistemis antropologi untuk secara eksplisit bisa menggarisbawahi bagaimana lensa interpretasi seseorang dapat memengaruhi persepsi orang tersebut akan yang Liyan. Dialog interdisipliner antara teologi dan antropologi ini akan menunjukkan premis-premis serta asumsi-asumsi yang terkandung di masing-masing disiplin ilmu, yang pada akhirnya dapat mempertajam tujuan-tujuan masing-masing disiplin</p> 2025-12-25T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2025 Kai Ngu https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/600 Eco-theology Movements from India 2025-07-08T02:47:36+00:00 George Zachariah gzachariahk@gmail.com <p>India memiliki sejarah yang panjang dan beragam terkait pemikiran dan praksis ekoteologis, dan tulisan ini berupaya untuk mengidentifikasi dan membahas keragaman trajektori ekoteologi-ekoteologi dari India tersebut. Lebih jauh lagi, tulisan ini juga memperlihatkan berbagai filosofi ekologis dan gerakan-gerakan keadilan lingkungan dari India serta memeriksa dampak mereka terhadap politik gerakan-gerakan ekoteologi India. Tulisan akan ditutup dengan sebuah pertanyaan kritis atas gerakan ekoteologi arus utama di India dan sebuah tawaran re-visi akan imaginasi dan praksis ekoteologi yang dibentuk oleh perspektif-perspektif subaltern dan <em>Indigenous</em>.</p> 2025-12-25T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2025 George Zachariah https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/662 Dukkha dan Ekologi Integral 2025-09-15T13:38:57+00:00 Anupama Ranawana anupama.m.ranawana@durham.ac.uk <p>Pemikiran ekologis dalam konteks seperti Sri Lanka, yang sedang memulihkan diri pasca perang berkepanjangan, harus memperhatikan berbagai dimensi krisis ekologis. Pertama-tama, penting untuk mempertimbangkan bagaimana perang yang berlangsung selama beberapa dekade telah membawa dampak ekologis yang signifikan terhadap daratan, udara, dan perairan. Perlu dipahami bahwa bencana-bencana alam—seperti banjir besar dan tsunami—terus terjadi selama 30 tahun peperangan antara negara Sri Lanka dan Liberation Tigers of Tamil Eelam (LTTE). Kompleksitas lain yang perlu ditambahkan di sini ialah fakta bahwa perangkat negara telah secara konsisten mengambil tanah dari kaum minoritas selama peperangan berlangsung, terutama dari komunitas Tamil dan pribumi. Hal ini telah merusak relasi antara komunitas-komunitas tersebut dan tanah sakral. Artikel ini merefleksikan berbagai dampak ini dan mengusulkan pentingnya <em>dukkha</em> atau penderitaan sebagai sebuah konsep sentral dalam ekoteologi Sri Lanka. Artikel ini ditulis dalam dialog dengan karya Suster Rasika Pieris, yang menarasikan penderitaan dari perspektif janda-janda Buddha dan Katolik di Sri Lanka untuk memikirkan bagaimana kita bisa meratap bersama Ciptaan dengan cara yang sama kita meratap bersama seorang janda. Bagaimana kita berpikir tentang penderitaan ketika Ciptaan dihancurkan bertubi-tubi? Apa implikasinya bagi ekoteologi?</p> 2026-01-23T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2025 Anupama Ranawana