https://indotheologyjournal.org/index.php/home/issue/feed Indonesian Journal of Theology 2021-01-16T21:57:02+00:00 Hans A. Harmakaputra editor@indotheologyjournal.org Open Journal Systems <p style="text-align: justify;">Indonesian Journal of Theology (<a href="http://u.lipi.go.id/1380233667">E-ISSN: 2339-0751</a>) adalah sebuah jurnal teologi yang dipublikasi oleh Asosiasi Teolog Indonesia. IJT digagas dengan tujuan memperkaya diskursus teologi antar teolog-teolog antar-denominasi dan antar-iman, terutama di konteks Indonesia. Selain itu, kami juga ingin berkontribusi kepada diskursus teologis yang lebih luas di kekristenan dunia saat ini, khususnya di konteks Asia, dengan mempublikasikan karya-karya dari penulis dari seluruh dunia. Kami menerima kontribusi dari sarjana-sarjana dalam bidang teologi, studi agama-agama, dan bidang-bidang terkait lainnya.</p> <p style="text-align: justify;">Anda dapat mengakses IJT dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Sila pilih bahasa yang diinginkan melalui menu di sebelah kanan.<br /><br /><em>To access the IJT in English, choose <strong>English</strong> at the <strong>Bahasa </strong>option on the right side. </em></p> https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/202 Mendedah Lokalitas, Menuju Interseksionalitas 2021-01-16T21:57:02+00:00 Adrianus Yosia tartarus.in.my.dream@gmail.com <p>Artikel ini akan mendedah penggunaan teologi interseksionalitas pada konteks lokal Tionghoa-Injili di Indonesia. Klaim yang ingin saya utarakan adalah lokalitas dari kaum Tionghoa-Injili di Indonesia dapat memberikan sumber teologisasi yang mewujud di dalam empat trayektori yang dilandaskan kepada karakteristik dari kaum Injili sendiri. Teologi interseksionalitas sendiri merupakan usaha berteologi di dalam eksplorasi multi-identitas sosial yang dimiliki oleh kaum Tionghoa-Injili. Untuk mencapai tujuan ini, pertama-tama eksplorasi mengenai identitas kaum Tionghoa-Injili secara umum akan dijabarkan. Setelah itu, artikel ini akan membahas teologi interseksionalitas. Pada bagian yang terakhir, wujud trajektori teologis akan dilakukan yang dibingkai <em>via </em>quadrilateral Bebbington: konversionisme (<em>conversionism</em>), aktivisme (<em>activism</em>), biblisisme (<em>biblicism</em>), dan cruci-sentrisme (<em>cruci-centrism</em>).</p> Hak Cipta (c) https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/201 A Sebuah Visi Komunal Pendidikan Agama dalam Konteks Multikultural Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat 2021-01-13T03:52:27+00:00 Jeniffer Wowor jwowor@fordham.edu <p><em>Realita kemajemukan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam pelayanan Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (disingkat GPIB). Kemajemukan ini adalah kekayaan gereja yang semestinya dapat memberi kontribusi penting dalam pelayanan. Namun, pada kenyataannya, persoalan justru muncul dalam konteks kemajemukan tersebut. Tekanan pada aspek “kesatuan </em><em>gereja” yang semestinya menjadi penunjang justru memiliki pengaruh dalam melanggengkan persoalan yang ada. Hal ini terjadi karena upaya untuk mengusung persatuan ternyata memiliki korelasi yang erat dengan dominasi aturan dan kekuasaan yang turut berdampak dalam pelaksanaan pendidikan agama dalam gereja. Artikel ini menekankan bahwa identitas komunal amat penting dalam realita kemajemukan dan tidak dapat diabaikan ketika kita sedang berupaya untuk memelihara kesatuan. </em><em>T</em><em>iga bagian dibahas untuk mengokohkan argument ini, konteks GPIB pada masa kini beserta persoalan yang dihadapi, kajian akademis tentang tujuan pendidikan agama yang dapat dipertimbangkan dalam konteks GPIB, serta landasan pemikiran bagi tujuan tersebut. Melalui ketiga tahapan itu, visi komunal dalam pelayanan dan pendidikan gereja diharapkan dapat berkontribusi dalam pelayanan di tengah jemaat dan bagi masyarakat Indonesia yang juga dibingkai dalam konteks kemajemukan.</em></p> Hak Cipta (c) https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/200 Ateisme-Kristen 2021-01-07T19:02:59+00:00 Albungkari albungkari@stftjakarta.ac.id <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Allah adalah misteri, dan terdapat beragam cara untuk mendekati Sang Misteri itu. Dalam terang kesadaran tersebut, Avery Dulles S.J dan&nbsp; Gary L. Thomas memaparkan model-model manusia dalam mendekati dan memahami wahyu Allah. Dulles mengatakan terdapat ada lima model manusia dalam memaknai wahyu Allah, dan Thomas menawarkan &nbsp;sembilan model spiritualitas manusia yang disebutnya sebagai “tapak suci” menuju Allah. Dua gagasan yang diajukan keduanya merupakan sebuah bentuk penegasan akan sisi misteri Allah yang tidak bisa dibelenggu dengan satu cara pakem untuk memahami-Nya. Akan tetapi, terdapat dua kekurangan dari tawaran model yang diajukan keduanya. Pertama, model-model tersebut hanya ditujukan bagi kaum teis. Kedua, model-model tersebut bertentangan dengan filsafat materialisme. &nbsp;Oleh sebab itu, tulisan ini betujuan mengenalkan ateisme-Kristen sebagai cara lain untuk mendekati Allah. Untuk menjelaskannya, saya menggunakan pemikiran Ernst Bloch yang menggabungkan dua aspek; ateisme dan kekristenan. di satu sisi kekristenan menawarkan utopia Kerajaan Allah, namun di sisi lainnya Ateisme mematerilkan Kerajaan Allah tersebut. Dua aspek ini tidak saling bertentangan, melainkan saling topang demi visi keadaan manusia yang lebih baik di masa depan. Oleh sebab itu, dalam pemahaman ateisme-Kristen, tidak ada lagi Allah, melainkan digantikan dengan Kerajaan Allah; sebuah keadaan tanpa alienasi. Dengan demikian, ateisme-Kristen merupakan cara mendekati Allah tanpa Allah.</p> Hak Cipta (c) https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/196 MEMBANGKITKAN KESADARAN ALTERNATIF 2020-12-31T17:08:55+00:00 nathaniel hendradi hendradi.nathaniel@gmail.com <p><em>Tulisan ini mendiskusikan pentingnya mitos sebagai sebuah imajinasi pengontrol kehidupan manusia yang menjadi dasar dari fenomena sinkretisme atau Christo-paganism. Tulisan ini terbagi dalam empat bagian. Dalam bagian pertama, penulis meluruskan definisi mitos dari sudut pandang misiologi – antropologi serta memberikan signifikansi mitos bagi kehidupan. Bagian kedua, penulis memaparkan beberapa pandangan umum mengenai bukti pertobatan dan transfromasi spiritual serta mengkaji pentingnya kerangka mitikal sebagai transformasi yang sejati. Ketiga, penulis mengkaji bahwa fenomena sinkretisme</em><em> tidak hanya menjadi isu misiologis antara kekristenan dengan agama-agama raksyat namun isu universal yang dihadapi semua orang percaya di segala tempat dan zaman. Keempat, penulis mengapropriasi kritik sosial dan kritik retoris Brueggemann sebagai bentuk pelayanan kenabian kontemporer untuk menjawab persoalan sinkretisme. Penulis berharap melalui tulisan ini, orang-orang Kristen, para rohaniwan (dan penulis secara pribadi) dapat membangkitkan spiritualitas kritis yang peka terhadap budaya.</em></p> Hak Cipta (c) https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/195 The LORD’S SUPPER REVISITED 2020-12-31T17:04:19+00:00 Jessica dovelyn.yao@gmail.com <p>Pertumbuhan spiritual tidak terlepas dari kehidupan peribadahan Gereja, terutama liturgi dan sakramen (seperti baptisan dan Ekaristi). Ekaristi (atau Perjamuan Kudus) merupakan sakramen terpenting dalam kehidupan orang percaya yang melaluinya kita dapat tinggal di dalam Kristus dan Kristus di dalam kita. Namun, gereja-gereja saat ini menyaksikan dua sikap ekstrim di dalam mendekati meja perjamuan: (1) terlalu menjunjung tinggi kesakralan Perjamuan Kudus sebagai sesuatu yang mistis atau gaib, (2) melihat Perjamuan Kudus hanya sebagai ritual atau peringatan. Kedua pengertian ini tidak salah, tetapi Perjamuan Kudus sebenarnya lebih berada di antara keduanya. Ekaristi melingkupi dua dimensi penting: sebagai perjamuan, dan sebagai perjamuan “kurban”. Kedua aspek religius dan awam/biasa (<em>the ordinary</em>/<em>common</em>) hadir di dalam Ekaristi.</p> <p>Catatan mengenai Perjamuan Terakhir menunjukkan Yesus makan “perjamuan” Paskah bersama dengan murid-murid-Nya dan menginstitusi ulang. Sejak itu, gereja mula-mula berkumpul di dalam rumah-rumah untuk memecahkan roti dan merayakan Perjamuan Tuhan, yang kemudian dikenal sebagai <em>agape</em>—perjamuan kasih. Namun, apa yang kita saksikan dalam Perjamuan Kudus hari ini sangat jauh berbeda dengan Perjamuan Terakhir Yesus maupun perjamuan kasih Kekristenan awal. Perjamuan Kudus menjadi seremoni tanpa perjamuan; sebuah perayaan tanpa pesta. Sungguh ironis bahwa yang disebut “perjamuan” hanya melibatkan roti berbentuk sekeping wafer dan satu seloki anggur. Ketiadaan “hidangan” menjadikan seremoni ini semakin asing dan terpisah. Perjamuan Kudus menjadi semakin sulit untuk dihayati karena penekanan pada kesakralan. Seremoni tinggal ritual karena yang “sakral” dipisahkan dari yang “sekuler”.</p> <p>Studi ini berpendapat bahwa pemisahan perjamuan kasih dari upacara Perjamuan Kudus menjadikannya kehilangan makna. Studi ini bertujuan mengungkap konteks dan sejarah Perjamuan Kudus, terutama pentingnya perjamuan atau makan dalam Ekaristi, dan bagaimana hal itu hilang dalam perjalanan sejarah. Kita akan melihat bahwa dalam konteks perjamuanlah gereja mula-mula merayakan Ekaristi, suatu ucapan syukur dalam bentuk perjamuan kasih. Dalam konteks perjamuanlah Yesus memperkenalkan tubuh dan darah-Nya saat Perjamuan Terakhir. Dalam konteks perjamuanlah Allah memerintahkan orang Israel untuk merayakan Paskah. Ketika kita mendekati meja perjamuan tanpa hidangan yang sebenarnya, makan “roti” dan minum “anggur” tanpa konteks menjadi ritual tanpa realitas.</p> <p>Terakhir, studi ini akan memberikan saran-saran bagaimana mendekati meja perjamuan dengan lebih baik, dan dengan demikian, diharapkan dapat memulihkan kembali makna dan <em>spirit</em> Perjamuan Kudus.</p> Hak Cipta (c) https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/194 The Holy Erotic Spirit 2020-12-31T07:57:47+00:00 Timotius Verdino verdinotimotius@gmail.com <p>Tulisan ini hendak menunjukkan bahwa spiritualitas dan seksualitas seseorang tidak dapat dipisahkan karena saling membutuhkan dan berjumpa dalam sebuah titik temu, yakni eros yang digerakkan dan dijiwai oleh Roh Kudus sebagai manifestasi dari eros ilahi atau hasrat Allah. Untuk itu, tulisan ini dimulai dengan selayang pandang mengenai bagaimana roh dan tubuh sering dipertentangkan dalam Kekristenan sepanjang sejarahnya. Kemudian, berangkat dari gagasan <em>asumptio carnis </em>dalam inkarnasi, saya akan menunjukkan bahwa menjadi seorang manusia adalah menjadi makhluk seksual dan makhluk spiritual secara simultan dan dinamis. Setelah itu, dengan merujuk pada pembahasan mengenai eros dalam Kidung Agung oleh Edmée Kingsmill dan eros dalam relasi dengan yang transenden menurut Mayra Rivera, saya akan membahas tentang eros sebagai titik jumpa spiritualitas dan seksualitas. Pada akhirnya, berdasarkan pandangan Paus Benediktus XVI dalam <em>Deus Caritas est</em>, tulisan ini ditutup dengan konstruksi teologis tentang Roh Kudus sebagai Roh Eros, yakni hasrat Allah sendiri yang menggerakkan dan menjiwai baik spiritualitas maupun seksualitas manusia.</p> Hak Cipta (c) https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/193 Diskriminasi Transpuan dan Spiritualitas Queer Marcella Althaus Reid 2020-12-30T14:42:14+00:00 Andreas Kristianto andreassiwi1305@gmail.com <p><em>Kontestasi politik dan agama (teologi) mempengaruhi representasi transpuan atau biasa disebut sebagai waria di Indonesia. Komunitas queer menjadi orang-orang asing (strange), yang tidak berdaya secara politik (powerless) dan termarjinalisasi karena identitas gender dan seksualitas yang berbeda. Proyek kolonialisme memberikan pengaruh dalam merepresi seksualitas yang non-heteronormatif. Dalam konteks diskriminasi pada komunitas transpuan, saya ingin menawarkan spiritualitas queer dari pardigma cinta yang tidak senonoh (indecent) dari Marcela Althuas Reid, seorang teolog dari Amerika Latin.&nbsp; Kesimpulan dari tulisan ini adalah spiritualitas Allah yang queer menjadi transformasi kehidupan yang menghadirkan relasi cinta dalam pengalaman sakramental (perjumpaan rahmat Tuhan). Melalui Spiritualitas Allah yang queer, spiritualitas eklesial “kenotic queer” dan spiritualitas misional “together to life” memungkin adanya transformasi sosial, menuntun perjalanan “menemukan kembali” (rediscovering) wajah Allah, sehingga proses queering menjadi upaya perlawanan/ subversif baik terhadap norma, aturan/ tatanan yang baku dan teks-teks keagamaan.</em></p> <p>&nbsp;</p> Hak Cipta (c) https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/192 ERA PASCAKEBENARAN SEBAGAI ERA UNTUK BERMISTIK 2020-12-30T14:21:44+00:00 Firdaus Salim daus1297@gmail.com <p>Kalangan Reformed selama ini cenderung bersikap curiga dan bermusuhan terhadap berbagai pengalaman iman yang sifatnya pribadi dan subjektif. Dogmatika Reformed yang berakar pada karya Calvin telah dianggap hanya mengutamakan akal budi dan rasionalitas semata. Mencermati perkembangan zaman, kaum Kristiani perlu menyadari bahwa kita sedang berhadapan dengan sebuah era, yakni era pascakebenaran. Era pascakebenaran, yang sering ditempatkan hanya di dalam konteks politik, ternyata mempunyai berdampak pula terhadap dinamika iman. Era pascakebenaran ini telah membuat rasionalitas dan hal-hal yang sifatnya objektif menjadi kurang lagi menarik. Unsur misteri dan kekaguman dalam iman yang sifatnya sujektif justru lebih mendapatkan tempatnya. Menghadapi era yang demikian, makalah ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa karya Calvin ternyata tidak lepas dari pengaruh tulisan mistik dan bahkan menunjukkan keterbukaan terhadap pengalaman mistik. Dengan demikian, kalangan Reformed, dalam menghadapi era pascakebenaran ini, diperbolehkan membuka diri untuk menghadirkan pengalaman religius di dalam iman mereka. Untuk mencapai tujuan ini, doa mistik Karl Rahner dapat menjadi sebuah sarana praktis yang membantu kalangan Reformed untuk mengalami aspek misteri dan kekaguman dalam imannya.</p> Hak Cipta (c) https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/191 ABBOT SELAKU REPRESENTASI KRISTUS: PERAN OTORITAS SEBAGAI WUJUD ULTIMA KASIH DALAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI 2020-12-30T03:39:41+00:00 Meiliana Evita meiliana01evita@gmail.com <p>Tulisan ini bertujuan untuk menemukan peranan utuh dari seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan mutlak terkait dengan pertumbuhan spiritual. Kepala biara di masa biara adalah contoh pemimpin dengan kualifikasi yang tinggi untuk melakukan tugas instruksional bagi orang-orang yang dilayani. Perkembangan sejarah menunjukkan perubahan dan kompleksitas peran ini. Elaborasi dengan kebutuhan spiritual anak, peran kepala biara diharapkan dapat menjadi acuan utama peranan otoritas yang menunjukkan kasih sebagai utama dari pendidikan spiritual. Kristus adalah representasi utama dalam proses instruksional ini.</p> Hak Cipta (c) https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/190 English 2020-12-29T19:37:25+00:00 Toar B. Hutagalung tbhutagalung@gmail.com <p>Colonization takes over many dimensions of life, e.g. theology, economy, history, and the idea of humanity itself (anthropology). In Indonesia, Dutch Imperial colonization has been determining the life of the people primarily since 18<sup>th</sup> century. The double-views of the Orientalists as well as by the colonized natives has disrupted the mentality of Indonesian people, including how they treated other human beings. This situation is invisible to review since the construction of history itself has been affected by the colonizers. Therefore, I argue it is important to use postcolonial hermeneutics to retrace the history. Since to do this is difficult if we are using main historical documents, I offer the importance of retracing it through literatures. My offer here is to analyze a novel <em>Max Havelaar </em>to find the hidden historical archives and how it can affect our theological understanding in reconstructing our definition about humanity to escape from the confinement of White Western orientalist gaze.</p> Hak Cipta (c)