Indonesian Journal of Theology https://indotheologyjournal.org/index.php/home <p style="text-align: justify;">Indonesian Journal of Theology (<a href="http://u.lipi.go.id/1380233667">E-ISSN: 2339-0751</a>) adalah sebuah jurnal teologi yang dipublikasi oleh Asosiasi Teolog Indonesia. IJT digagas dengan tujuan memperkaya diskursus teologi antar teolog-teolog antar-denominasi dan antar-iman, terutama di konteks Indonesia. Selain itu, kami juga ingin berkontribusi kepada diskursus teologis yang lebih luas di kekristenan dunia saat ini, khususnya di konteks Asia, dengan mempublikasikan karya-karya dari penulis dari seluruh dunia. Kami menerima kontribusi dari sarjana-sarjana dalam bidang teologi, studi agama-agama, dan bidang-bidang terkait lainnya.</p> <p style="text-align: justify;">Anda dapat mengakses IJT dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Sila pilih bahasa yang diinginkan melalui menu di sebelah kanan.<br /><br /><em>To access the IJT in English, choose <strong>English</strong> at the <strong>Bahasa </strong>option on the right side. </em></p> id-ID editor@indotheologyjournal.org (Hans A. Harmakaputra) noes2305@indotheologyjournal.org (Adrianus Yosia) Kam, 10 Sep 2020 11:42:58 +0000 OJS 3.2.0.3 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Merenungkan Kembali Pertanyaan "Siapakah Sesamaku Manusia?" https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/166 <p>Artikel ini merupakan pengantar dari editor untuk edisi spesial Merenungkan Kembali Pertanyaan "Siapakah Sesamaku Manusia?"</p> Adrianus Yosia Hak Cipta (c) 2020 Adrianus Yosia https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/166 Kam, 10 Sep 2020 00:00:00 +0000 Mengalami Allah Dengan Melepaskan https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/165 <p><strong>MENGALAMI ALLAH DENGAN MELEPASKAN</strong></p> <p>&nbsp;</p> <p>Dunia yang kita tempati adalah dunia yang penuh dengan perbedaan. Kita tentu menyadari bahwa Tuhan menempatkan kita di situasi dan keadaan yang berbeda. Ada yang terlahir miskin, ada juga yang terlahir dalam kelimpahan. Ada yang harus berjuang untuk mendapatkan sesuap nasi, ada pula yang hidup dengan berbagai kemudahan. Perbedaan di tingkat ekonomi inilah yang menjadi perhatian dari penulis ketika penulis melihat bahwa masih banyak orang yang terlahir dalam keluarga miskin secara khusus di Indonesia. Mereka yang dapat dikatakan lemah tersebut hidup di negara yang menganut ideologi Pancasila. Ideologi dengan lima sila di dalamnya, yaitu Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial. Tentu, negara memiliki aturan dan kebijakan tersendiri dalam mengatasi jurang antara yang miskin dan kaya tersebut. Namun dalam hal ini, gereja pun perlu memberikan gerakan tersendiri. Gereja perlu menciptakan dunia dimana di dalamnya terbangun Kerajaan Allah, karena gereja adalah tubuh Kristus. Gereja perlu melakukan tugas yang telah dimulai oleh Yesus ketika Ia datang ke dunia dan mengatakan misiNya dalam Lukas 4:18-19.</p> <p>Ketika kita melakukan apa yang diperintahkanNya, maka disitulah kita benar-benar menyatu dengan Dia. Maka ketika kita mengatakan kita mencintai Tuhan dengan segenap hati dan pikiran kita, kita tidak hanya mengatakan itu secara teori saja, tetapi kita benar-benar hidup dalam cintaNya dengan menyelami dan melakukan apa yang dilakukanNya selama hidup. Itulah yang dinamakan dengan teologi spiritual. Tindakan yang dilakukan oleh Yesus dalam membawa pembebasan inilah yang juga dapat dilihat dari pemahaman Dorothee Soelle dalam bukunya “The Silent Cry Mysticism And Resistance.” Soelle mengatakan bahwa kita perlu hening, tenang, mendengar dan doa untuk merasakan kekaguman akan cinta Allah. Lalu kemudian melepaskan. Kita perlu melepaskan diri dari keterikatan terhadap dunia ini. Kita perlu dimurnikan dari mekanisme konsumsi, kesibukan untuk bekerja, dan keegoisan diri. Lalu kemudian kita sampai pada tindakan perlawanan, bagaimana kita keluar dari kebiasaan dan norma yang mengikat, keluar dari keegoisan dan kemudian peduli pada mereka yang miskin dan tertindas.</p> Chintya Situmeang Hak Cipta (c) https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/165 Menolak Diam: Gereja Melawan Perdagangan Orang https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/164 <p>Diskusi buku <em>Menolak Diam.</em></p> Linna Gunawan Hak Cipta (c) 2020 Linna Gunawan https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/164 Kam, 10 Sep 2020 00:00:00 +0000 Menolak Diam: Gereja Melawan Perdagangan Orang https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/163 <p>Diskusi buku <em>Menolak Diam.</em></p> Fang Fang Chandra Hak Cipta (c) 2020 Fang Fang Chandra https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/163 Kam, 10 Sep 2020 00:00:00 +0000 Menolak Diam: Gereja Melawan Perdagangan Orang https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/161 <p>Diskusi atas buku <em>Menolak Diam.</em></p> Danang Kurniawan Hak Cipta (c) 2020 Danang Kurniawan https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/161 Kam, 10 Sep 2020 00:00:00 +0000 Dialog Kemanusiaan https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/160 <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Apakah ada peluang (probabilitas) diskursus dialog kemanusiaan antara kekristenan dan ateisme dalam tatanan diskursif, praktis dan lebih menukik pada relasi antarspiritualitas? Dalam tulisan inilah saya akan mencoba meraba peluang tersebut secara imajinatif. Saya berpendapat bahwa dalam rangka menjembatani dialog kemanusiaan tersebut, dapat dilangsung dalam konsensus bahwa kedua zona ‘spiritual’ ini dapat diperbandingkan (<em>commensurability</em>), sekaligus tidak (<em>incommensurability</em>). Tesis tulisan ini dilahirkan dari usaha saya memantau perkembangan relasi keduanya, dengan menengok usaha Andre Comte-Sponville, yang memang sedang mengembangkan diskursus; “spiritualitas tanpa Tuhan”. Dengan pendekatan kritis, spiritualitas tanpa Tuhan akan dibingkai sebagai diskursus bersama dengan spiritualitas Trinitaris Kosmis, dalam rangka mengonstruksi perspektif dialog kemanusiaan. Arah konstruksi adalah usaha <em>mengalami spiritualitas Trinitaris dalam dialog dengan spiritualitas ateisme sebagai usaha berteologi di tengah krisis kemanusiaan</em> (dan juga ekologi), sebagai perkara historis masa kini, dan dibawa ke konteks di Indonesia – dibanding kekerasan dan disfungsi sosial agama itu sendiri.</p> <p><span class="tagit-label">Kata-kata Kunci: dialog kemanusiaan, spiritualitas, religius, kekristenan dan ateisme</span></p> Fiktor Banoet Hak Cipta (c) https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/160 The Acting Person on the U.S.-Mexico Border https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/159 <p>Artikel ini membahas gagasan Karol Wojtyla tentang <em>the acting person</em> yang diletakan dalam konteks migran dan sukarelawan kemanusiaan di perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko. Artikel ini terbagi atas tiga bagian. Pada bagian pertama, dibahas konteks yang dihadapi oleh migran dan sukarelawan kemanusiaan di perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko. Para migran harus menghadapi berbagai bentuk kekerasan di perbatasan, dan para sukarelawan kemanusiaan memilih untuk bersama-sama berjuang dengan mereka untuk keluar dari situasi ini. Pada bagian kedua, dijelaskan ide-ide utama yang dipresentasikan oleh Karol Wojtyla dalam buku “The Acting Person” yang diterbitkan pada tahun 1969 sebelum ia ditabiskan menjadi Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1978. Di dalam buku tersebut, Karol Wojtyla membahas pentingnya konsep <em>the acting person</em> lewat partisipasi secara sadar dalam tindakan solidaritas dengan orang lain untuk mencapai kebaikan bersama (<em>common good</em>). Pada bagian ketiga, disajikan refleksi kritis tentang hubungan antara konteks migran dan pengalaman kerja kemanusiaan di perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko dengan gagasan Wojtyla tentang <em>the acting person</em> sebagai sesama manusia (<em>neighbor</em>). Dengan menempatkan ide Karol Wojtyla dalam dialog dengan konteks di perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko, saya berharap dapat memperluas aplikasi pemikiran Wojtyla dalam diskusi kontemporer.</p> Irene Ludji Hak Cipta (c) 2020 Irene Ludji https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/159 Kam, 10 Sep 2020 00:00:00 +0000 Logika: Sebuah Pendekatan yang Berpusat pada Allah Menuju Fondasi Pemikiran Barat https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/158 <p>Sebuah resensi untuk buku <em>Logika.</em> </p> Calvin Wu Hak Cipta (c) 2020 Calvin Wu https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/158 Kam, 10 Sep 2020 00:00:00 +0000 Asserting Human Dignity, Redeeming Advanced Modern Technologies https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/157 <p>The aim of this article is to show the relevance of Pope John Paul II’s thought for rethinking human dignity vis-à-vis advanced modern technologies. Despite some positive contributions, some social scientists observe that advanced modern technologies make us less human. For instance, Thomas O’Brien, a social ethicist, argues that leading-edge technologies are both flaccid and firm that penetrate every aspect of our contemporary life whether one is aware of it or not. By the same token, Sherilyn Macale, a social media editor, argues that modern technologies have made people become idle. Macale observes that a massive amount of entertainment (TV, movies, video games) without leaving the sofa makes people less productive and stupid. However, Paul II provides a philosophical-theological view of human person that is worth considering as a guide to a technological savvy society. In this present crisis, rediscovering John Paul II’s concept of human dignity allows us to understand<br>how important re-evaluating science and technology is starting from the human person.</p> Hadje C. Sadje Hak Cipta (c) https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/157 Riasan Wajah Sebagai Bagian Gambar Diri https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/154 <p>Tulisan ini berbicara tentang citra tubuh manusia sebagai bagian penting dari totalitas eksistensi di dalam konstruksi sosial-masyarakat. Citra tubuh sendiri terbangun berdasarkan kesan, pikiran, perasaan, dan opini seseorang tentang tubuhnya. Terkait dengan maraknya <em>beauty </em>vlogger pada berbagai akun media sosial (<em>YouTube</em> dan <em>Instagram</em>) yang mendemonstrasikan berbagai teknik <em>makeup</em> bagi perempuan, penulis mengemukakan kritik rekonstruksi terhadap hiruk-pikuk modernisme yang menempatkan manusia terjebak dalam konstruksi pandangan industri-kolonialisme yang mengatakan bahwa tata rias wajah (<em>makeup</em>) menjadi bagian dari gambar diri manusia, khususnya bagi perempuan. Penulis berargumentasi bahwa manusia sejatinya adalah mahluk yang indah dan berharga dalam keaslian gambaran dirinya meski tanpa bantuan tata rias wajah dengan menggunakan konsep <em>body image</em> dalam ranah psikologi dan sudut pandang estetika dari Hans Urs von Balthasar.</p> Irene Chrysantheme Roan Pea Hak Cipta (c) 2020 Irene Chrysantheme Roan Pea https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/154 Kam, 10 Sep 2020 00:00:00 +0000