Indonesian Journal of Theology https://indotheologyjournal.org/index.php/home <p style="text-align: justify;">Indonesian Journal of Theology (<a href="http://u.lipi.go.id/1380233667">E-ISSN: 2339-0751</a>) adalah sebuah jurnal teologi yang dipublikasi oleh Asosiasi Teolog Indonesia. IJT digagas dengan tujuan memperkaya diskursus teologi antar teolog-teolog antar-denominasi dan antar-iman, terutama di konteks Indonesia. Selain itu, kami juga ingin berkontribusi kepada diskursus teologis yang lebih luas di kekristenan dunia saat ini, khususnya di konteks Asia, dengan mempublikasikan karya-karya dari penulis dari seluruh dunia. Kami menerima kontribusi dari sarjana-sarjana dalam bidang teologi, studi agama-agama, dan bidang-bidang terkait lainnya.</p> <p style="text-align: justify;">Anda dapat mengakses IJT dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Sila pilih bahasa yang diinginkan melalui menu di sebelah kanan.<br /><br /><em>To access the IJT in English, choose <strong>English</strong> at the <strong>Bahasa </strong>option on the right side. </em></p> Asosiasi Teolog Indonesia id-ID Indonesian Journal of Theology 2339-0751 Ekoteologi Berwawasan Dunia Panenteis-sakramental: https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/223 <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Tulisan ini bermaksud memperdalam dan menjelaskan bentuk wawasan dunia panenteisme dengan model sakramental. Sebagai wawasan dunia integral, panenteisme penting, mengingat peran berbagai agama-agama dan kepercayaan religius dalam tugas mendesaknya untuk merespon krisis ekologi yang semakin destruktif. Panenteisme diekplorasi menurut perspektif Kristen, lantaran menurut pendapat saya, wawasan tersebut perlu dilihat di samping dan atau secara integral dapat dipakai dalam tiga bentuk besar wawasan dunia religius, teisme, panteisme dan ateisme. Di dalam uraian dapat ditunjukan jalan masuk ke dalam panenteisme melalui teologi sakramental. Mula-mula teologi sakramental diangkat sebagai langgam teologi ekumenis dan diskusi tentangnya menjadi menarik karena sumbangan postmodernisme. Dalam model sakramental, panenteisme melampaui bentuk wawasan dunia lainnya yang berciri oposisi biner dan melampaui dualisme hubungan Allah dengan dunia. Terutama, panenteisme mengeritik tajam bentuk teisme klasik yang kerap menyemaikan ekoteologi antroposentris.</p> <p>&nbsp;</p> Fiktor Banoet Hak Cipta (c) 9 1 Wajah Baru Zionisme vs Yahudi Ortodoks Titik Temu Perkelahian Agama dan Negara https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/227 <p>Buku ini ditulis oleh Ibnu Burdah yang merupakan dosen di Fakultas UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tujuan penelitian ini ditulis yang pertama, hendak menyajikan potret bagaimana kisah perjalanan bangsa Yahudi mendirikan negara Israel di Palestina. Kedua, melihat pertentangan atau konflik diinternal bangsa Yahudi itu sendiri yakni kelompok Zinonisme sekuler-Barat dan kelompok agama Yahudi Ortodoks. Ketiga, melihat bagaimana proses kedua kelompok yang mulanya saling beroposisi dikemudian waktu dapat berdamai dan berkerjasama untuk mendirikan negara Israel. Dengan didirikannya negara Israel, maka masyarakat Israel dapat mengakhiri penderitaannya di negeri pengasingan.</p> Arthur Aritonang Hak Cipta (c) 9 1 KENISCAYAAN PENETRASI BUDAYA KAUM MUDA https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/222 <p>Ada 3 poin yang hendak dikedepankan dalam tulisan ini, yaitu: keniscayaan, penetrasi, dan budaya kaum muda. Keniscayaan berbicara tentang sesuatu yang mutlak, &nbsp;sehingga kecil kemungkinan dapat dihindari. Bagian lain, yaitu penetrasi, berbicara mengenai sebuah terobosan atau menembus sebuah bagian, bahkan untuk mencapai sasarannya penetrasi juga dapat bertindak merembes. Penetrasi memperlihatkan sebuah pencapaian sasaran melalui tindakan menerobos, atau menembus, dan juga merembes. Variabel terakhir berbicara mengenai budaya, dalam hal ini segmentasinya adalah kaum muda. Budaya sendiri diperlakukan sebagai sesuatu yang terbentuk <em>inherency</em> dalam setiap pemikiran dan tindakan manusia. Sehingga budaya dapat dilihat sebagai sebuah keniscayaan dalam kehidupan manusia. Budaya akan bertindak menerobos, menembus, bahkan merembes dalam kehidupan manusia. Tulisan ini akan memaparkan bahwa budaya kaum muda adalah keniscayaan yang tak terhindar di semua area, termasuk aneka ruang yang meragukan budaya kaum muda adalah sumber daya aktif bagi sebuah kemajuan. Tulisan ini menjadi sebuah kritik keraguan tentang keniscayaan budaya kaum muda.</p> benedictus dewanto Hak Cipta (c) 9 1 Christianities in Southeast Asia https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/221 <p>Artikel ini merupakan editorial untuk edisi spesial "Christianities in Southeast Asia."</p> Hans A. Harmakaputra Christopher M. The Hak Cipta (c) 2021 Hans Harmakaputra https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 2021-08-12 2021-08-12 9 1 1 7 10.46567/ijt.v9i1.221 Interfaith Engagement in Milwaukee: A Brief History of Christian-Muslim Dialogue https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/220 <p>Sebuah resensi untuk buku Interfaith Engagement in Milwaukee: A Brief History of Christian-Muslim Dialogue</p> Hans A. Harmakaputra Hak Cipta (c) 2021 Hans A. Harmakaputra https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0 2021-08-12 2021-08-12 9 1 125 128 10.46567/ijt.v9i1.220 MUNGKINKAH DUAL BELONGINGS SEBAGAI ALTERNATIF MENCAPAI KESEMPURNAAN ROHANI? https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/219 <p>Abstrak</p> <p>Kepemilikan kepercayaan ganda merupakan sebuah realitas ditengah masyarakat yang terbentuk melalui interaksi sosial, budaya dan juga tatanan keluarga. Realitas tersebut menjadi fokus penelitian yang dilakukan oleh Knitter, Drew dan Cornille. Melalui interaksi pribadi Knitter, Drew dan Cornille terhadap realitas keberagaman agama yang terintegrasi dalam kehidupan masayarakat secara sosial dan budaya (khususnya di Asia) memberikan sebuah nilai tambah dalam membangun dialog dan kerja sama antarumat beragama. Knitter, Drew dan Cornille menilai bahwa kepercayaan ganda menjadi sebuah tradisi yang baik dan positif. Bahkan Knitter sendiri melalui pengalamannya memberi kesimpulan bahwa kepercayaan ganda merupakan alternatif mencapai spiritualitas yang baik. Sekalipun Cornille secara mayor setuju dengan praktik ritual dual belongings tetapi dia meragukan komitmen dan penyerahan diri seseorang yang menjalankan <em>dual belonging</em> secara bersamaan. Apa yang diragukan oleh Cornille paling tidak memberikan jawaban bahwa <em>dual belongings</em> tidak menjamin seseorang mencapai tingkat spiritualitas yang baik dan maksimal. Oleh sebab itu bentuk <em>affiliative </em>seperti yang di gagas oleh Cea dapat menjadi alternatif bagi <em>dual belongings.</em></p> Bedali Hulu Hak Cipta (c) 9 1 Memahami Pemuridan Maria sebagai Realisasi Tubuh Mistik https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/217 <p><em>The Blessed Virgin Mary is intimately united with the Church. It was through her gift and role as the Mother of God that she is united with her Son, the Redeemer of the world. In the same way, also, every follower of her Son becomes her sons and daughters too, making her the Mother of all. According to St. Thomas Aquinas, the Church, being the living body of Christ, is compacted out of a plurality of members who are quickened and governed by a single principle, which is the Holy Spirit. Every member of the Church is called to return to God as He placed in men some tendencies which flow from Him to wit: the theological virtues. To achieve this, a model must be looked upon by the members of the Church as the realization of this call, which is the Blessed Virgin Mary. Thus, the main question is: What is the role of the Blessed Virgin Mary in the Realization of the Mystical Body of Christ? In light of this, this paper discusses the following themes: first, St. Thomas' teaching about the Church as the Mystical Body of Christ wherein its members are animated by the theological virtues; second Mary as Disciple of Christ as discussed in the Magisterial documents; and third, Mary's Discipleship as the realization of the Mystical Body of Christ which is the model for every faithful of the Church.&nbsp; &nbsp;&nbsp;</em></p> Andrew Chanco Hak Cipta (c) 9 1 MUNGKINKAH DUAL BELONGINGS SEBAGAI ALTERNATIF MENCAPAI KESEMPURNAAN ROHANI? https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/215 <p>Abstrak</p> <p>Kepemilikan kepercayaan ganda merupakan sebuah realitas ditengah masyarakat yang terbentuk melalui interaksi sosial, budaya dan juga tatanan keluarga. Realitas tersebut menjadi fokus penelitian yang dilakukan oleh Knitter, Drew dan Cornille. Melalui interaksi pribadi Knitter, Drew dan Cornille terhadap realitas keberagaman agama yang terintegrasi dalam kehidupan masayarakat secara sosial dan budaya (khususnya di Asia) memberikan sebuah nilai tambah dalam membangun dialog dan kerjasama antar umat beragama. Knitter dan Drew menilai bahwa kepercayaan ganda menjadi ternyata sebuah tradisi yang baik dan positif. Bahkan Knitter sendiri melalui pengalamannya memberi kesimpulan bahwa kepercayaan ganda merupakan alternatif mencapai kesempurnaan rohani. Cornille memberikan pemahaman yang berbeda. Cornille menilai bahwa kepercayan ganda justru menimbulkan standar rohani ganda yang mengakibatkan kesuraman rohani. Hal ini sejajar dengan pemikiran Calvin terhadap Keluaran 20:3. Dalam penafsirannya, Calvin menegaskan bahwa kepercayaan ganda sama dengan sikap menduakan Tuhan dan melawan kehendak Tuhan.</p> Bedali Hulu Hak Cipta (c) 9 1 CARITAS AND AWLIYA https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/213 <p>Christian and Muslim relationship is one of the most interesting relation that we could investigate. There is so many conflicts between both of religion and it ends with negative assumption, discriminations, and phobias. It seems there is no other to reconcile both of this religion for the purpose of peace. When both of religion speaks about friendship, it often&nbsp; only &nbsp;to the internal community of Islam and Christian exclusively. But perhaps there is some views of friendship in Islam and Christianity that make this two religions agree and trying to build a good relationship in society. Some of the Christian and Islam scholars like Augustine and Al-Ghazali often explains the concept of friendship in their writings, Augustine offer his <em>caritas </em>concept of friendship, while Al-Ghazali explains some principals on friendships as one of the category if someone wanted to became an <em>awliya</em> or friends of Allah in properly.</p> Jonathan Cristian Wijaya Hak Cipta (c) 9 1 Book Review https://indotheologyjournal.org/index.php/home/article/view/212 <p>Book review on: <br>Steven M. Studebaker, The Spirit of Atonement: Pentecostal Contributions and Challenges to the Christian Traditions (London, UK: T&amp;T Clark, Bloomsbury Publishing Co., 2021)</p> Monte Lee Rice Hak Cipta (c) 9 1